Silakan memberi komentar sesuka anda setelah anda membaca tulisan singkat ini, aku orangnya "open minded" kok. Ingin bahas sedikit tentang hal yang dianggap sepele di lingkungan sekitar aku hidup, bagi bagi aku pribadi tidak begitu. Hal-hal yang dianggap kecil namun mengakar pada pemahaman yang cukup mendasar. Tentang pilihan hidup yang dipilih berdasarkan pemahaman atau bukan, tentang pendirian akan sebuah pemahaman.
Pikiran aku terbuka namun tidak untuk hal-hal yang ikut-ikutan dan membebek. Apapun hal-hal kecil yang kamu lakukan dalam hidup usahakan bisa menjawab ketika ditanya dengan pemahaman dan sebuah pendirian. tema ini aku angkat karena kawan-kawan di sekitar sedikit membuatku risih, yang aku berharap mereka melakukannya karena tidak paham, bukan karena sengaja dan ikut-ikutan.
Sebagai contoh, hal yang untuk sebagian orang di anggap sangat sepele untuk dibahas, bahkan kamu yang membaca ini aku yakin sebagian termasuk dari orang macam itu. kasus pertama, seorang kawan memunculkan emoticon lambang lingkar muka dengan senyuman tetapi ada lingkaran di atasnya. Ya, biasanya emot itu ditampilkan di "personal massage" Black Berry Massanger, dan di awali dengan doa-doa yang dipanjatkan yang mereka pamer-pamer di PM BBM. Aku sangat yakin mayoritas tipe orang yang seperti itu hanya mengetik saja doa-doa mereka di gadget mereka dengan harapan di baca oleh semua kontak yang ada di dalam aplikasi itu dan mereka memberi simpati atau berkomentar terhadap status yang baru saja dia update.
Nah, untuk kasus yang pertama ini mari di analisa satu per satu dalam banyak perspektif, silakan berikan komentar jika ingin menambahkan. Mayoritas orang semacam ini tidak akan berharap dengan sungguh-sungguh Tuhan yang dipanjatkan doa untuk-Nya akan mengabulkan doanya. Aku yakin mayoritas hanya mengetik saja kata-kata itu tanpa berdoa dengan sungguh-sungguh, berusaha memperbaiki diri agar doanya diterima oleh-Nya. Terjadi pergeseran tata cara berdoa yang luar biasa dari yang dicontohkan oleh idola kita bersama, Rasulullah Saw. Salah satunya seperti berdoa dengan cara menangis pada tempat shalat di tengah malam dengan kondisi tidak seorangpun yang tahu, sangat bersungguh-sungguh berharap dan orientasinya hanya Sang Pencipta, bergeser menjadi berdoa hanya dengan mengetik satu atau dua kalimat di gadgetnya, berharap banyak yang simpati atau kagum dengan apa yang dia tulis, kemudian mendapatkan respon dari kontak yang ada pada suatu media sosial atau aplikasi tertentu dan berorientasi pada makhluk, walau berdoa kepada Allah Swt. Mari saling jujur, aku yakin aku pernah seperti kasus di atas tapi sudah lupa kapan.
Tinjauan selanjutnya dari segi tulisan. Apa yang ada di benak kalian ? Ejaan kah yang akan aku coba bahas ? Atau bahkan penggunaan huruf dan kata-kata alay ? Hohoho. Bisa jadi di lain kesempatan. Yang ingin aku sharing adalah tentang penggunaan emot di ujung status itu. Sangat banyak orang menyimbolkan lambang yang aku sebutkan di atas dengan citra shaleh/shalehah. Lalu dimana letak pergeserannya ? Aku berani jamin kalian semua yang baca ini tidak menyangkal simbol lingkaran yang di atas kelapa seperti yang digambarkan dalam emot itu adalah lingkaran yang ada pada peri dalam pemahaman suatu agama yang bukan Islam. Pada tulisan ini aku sama sekali tidak ingin memojokkan suatu agama, akan tetapi untuk apa membalikkan pemahaman ? Tidak pantas jika seorang muslim/muslimah menggunakan simbol itu menurutku. Karena pahamkah kamu urgensi sebuah bahasa ? Suatu pemahaman ditranfer melalui bahasa, dan bahasa ditulis agar bisa dipahami tanpa harus diucapkan langsung dan berulang-ulang kali melalui simbol-simbol. Apakah orang-orang seperti itu hanya ikut-ikutan saja, tidakkah mereka terus belajar untuk memahami apapun yang mereka kerjakan ? walaupun hal-hal kecil. Dimana porsi sebuah pendirian terhadap aturan-aturan yang telah diakui dengan lisan ?
Contoh selanjutnya yang kedua adalah bersyukur pada Allah Swt. ketika merayakan hari jadi suatu hubungan tanpa status yang disebut pacaran. Kenapa aku tuliskan hubungan tanpa status ? Padahal kan mereka pacaran ? Lha semua yang namanya pacaran itulah hubungan tanpa status. Toh tidak ada pilihan status d ktp kamu yang namanya pacaran, yang ada kawin atau belum kawin.
Tinjauan selanjutnya dari segi tulisan. Apa yang ada di benak kalian ? Ejaan kah yang akan aku coba bahas ? Atau bahkan penggunaan huruf dan kata-kata alay ? Hohoho. Bisa jadi di lain kesempatan. Yang ingin aku sharing adalah tentang penggunaan emot di ujung status itu. Sangat banyak orang menyimbolkan lambang yang aku sebutkan di atas dengan citra shaleh/shalehah. Lalu dimana letak pergeserannya ? Aku berani jamin kalian semua yang baca ini tidak menyangkal simbol lingkaran yang di atas kelapa seperti yang digambarkan dalam emot itu adalah lingkaran yang ada pada peri dalam pemahaman suatu agama yang bukan Islam. Pada tulisan ini aku sama sekali tidak ingin memojokkan suatu agama, akan tetapi untuk apa membalikkan pemahaman ? Tidak pantas jika seorang muslim/muslimah menggunakan simbol itu menurutku. Karena pahamkah kamu urgensi sebuah bahasa ? Suatu pemahaman ditranfer melalui bahasa, dan bahasa ditulis agar bisa dipahami tanpa harus diucapkan langsung dan berulang-ulang kali melalui simbol-simbol. Apakah orang-orang seperti itu hanya ikut-ikutan saja, tidakkah mereka terus belajar untuk memahami apapun yang mereka kerjakan ? walaupun hal-hal kecil. Dimana porsi sebuah pendirian terhadap aturan-aturan yang telah diakui dengan lisan ?
Contoh selanjutnya yang kedua adalah bersyukur pada Allah Swt. ketika merayakan hari jadi suatu hubungan tanpa status yang disebut pacaran. Kenapa aku tuliskan hubungan tanpa status ? Padahal kan mereka pacaran ? Lha semua yang namanya pacaran itulah hubungan tanpa status. Toh tidak ada pilihan status d ktp kamu yang namanya pacaran, yang ada kawin atau belum kawin.
Seperti contoh yang pertama. Terserah mau menganggap sepele atau tidak.
- dll
Tidak ada komentar:
Posting Komentar